RSS

IRT : Super Profesi

14 Jun

( Diambil dari Catatan Facebook Nurul F. Huda )

1. SUPER PROFESI
Suatu hari, saya berkesempatan mengisi acara pengajian plus arisan (mungkin juga plus rumpi-rumpian) ibu-ibu di sebuah kompleks perumahan. Acara rutin yang mereka adakan demi meningkatakan kualitas tugas utama perempuan, menjadi ibu. Menganut pepatah tak kenal maka tak sayang, kami saling memperkenalkan diri, dari mulai nama, tempat tinggal, hingga pekerjaan dan aktifitas.
“Saya cuma ibu rumah tangga.” Jelas seorang ibu dengan nada malu-malu. Kalimat senada diucapkan beberapa ibu yang lain dengan intonasi rendah, bahkan mungkin kata orang Melayu: tanpa marwah.
Cuma. Ah, saya sempat miris. Apa pun kata di belakang kata “cuma, hanya”, selalu berkonotasi rendah, kecil, sepele, remeh, subordinat, tidak bisa diperhitungkan, underdog dan makna konotasi tidak utama lainnya. Uh. Saya yakin, tak seorang pun anggota DPR akan menyebut posisinya dengan “Saya cuma anggota DPR.” Begitu juga pejabat-pejabat birokrasi di level mana pun memegang kendali. Pastilah mereka mengucapkan jabatan tersebut dengan dada gembung, membusung seperti dada burung. Bangga. Mengapa? Gengsi. Prestise. Status sosial. Duit. Tak peduli di ruang sidang banyak tidur, tak gubris di presensi banyak bolong, tak malu mengkapling dana untuk beraneka fasilitas pribadi yang tak urgen, tak payah berkelit bila berbuat salah. Tak. Mereka berbangga dengan segala sematan dan sebutan yang ada karena tersorot publik, mempengaruhi jalannya kebijakan, berbingkai kekuasaan dan tentu saja, ada nilai kapital plus sosial yang besar di sana. Sedangkan ibu rumah tangga? Itulah. 3 Ur (dapur, sumur, kasur) saja urusannya, seolah-olah. Posisi ibu menjadi semakin “tidak berharga” karena dianggap nilai produktifitasnya (secara kapital) tidak jelas. Lebih parah lagi, posisi ibu secara sosial (baca : publik) mungkin saja dianggap tidak memiliki nilai prestise yang tinggi. Cobalah anda tanya ke para suami, apakah mereka lebih bangga memiliki istri seorang publik figur yang secara sosial diakui memilik “something plus”, atau lebih bangga memiliki seorang istri yang serius menjadi ibu rumah tangga saja? Hayo?
Saya tersenyum mendengar ungkapan ibu-ibu yang merendah itu. Sekelebat pikir segera membuat saya menatap mereka satu-satu. Duhai, kaumku yang memegang tugas mulia dan sangat penting menentukan keberlangsungan peradaban manusia, justru malu dan tak percaya diri dengan tugasnya. Saya menghela nafas. Saatnya berbicara.
“Ibu rumah tangga adalah profesi yang paling mulia. Paling berperan terhadap peradaban manusia. Paling membutuhkan banyak keahlian sekaligus kekuatan jiwa. Saya penulis, saya punya beberapa kesibukan lain, tetapi di atas itu semua saya adalah ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga adalah profesi yang saya percaya lebih kompleks, lebih membutuhkan banyak keahlian. Bukan profesi yang layak diberi kata CUMA.” kalimat itu meluncur cepat, mencoba menebar semangat. Padahal, sebenarnya saya tengah menyemangati diri sendiri. Ayo, Rul!
Benar. Ibu rumah tangga adalah profesi yang tidak banyak orang, bahkan dari kaum perempuan sendiri, yang sanggup melakoni. Apatah lagi para lelaki. Mereka pasti buru-buru kawin lagi bila ditinggal mati istri, sementara para janda banyak yang berhasil menjadi ibu dan ayah sejati. Karena berat, kompleks dan mulianya tugas menjadi ibu rumah tangga, bahkan saya merasa tugas menjadi ibu pantas disebut SUPER PROFESI. Ada beberapa alasan yang membuat ibu rumah tangga menurut saya sangat layak disebut “Super Profesi”.
Pertama, seorang ibu pasti dituntut mempunyai beberapa kebisaan, istilah kerennya kapabilitas, terkait dengan tugas rumah tangga. Beragam bidang terangkum dalam tugas seorang ibu. Kuliner, cleaning service, binatu, tukang kebun, dan tugas seputar rumah lainnya. Pun bila punya pembantu, fungsi manajer terhadap semua bidang tersebut harus diemban. Artinya, dia tahu bagaimana kualitas masakan yang enak dan baik secara komposisi gizi, tahu apa artinya menata rumah, tahu bagaimana merawat tanaman (bila mempunyai), tahu bagaimana teknik mencuci, menyetlika dan menyimpan baju yang baik, dan lain-lain. Meski tidak turun tangan, fungsi supervisi tetap dijalani. Coba, kalau tidak paham bab makanan saja. Anak dibiarkan sembarang jajan, olahan yang menjadi santapan tanpa gizi dan nutrisi yang memang diperlukan badan, komposisi tak seimbang, keluarga pun tumbang. Apalagi. Ditambah tidak mengerti bagaimana mendidik anak yang baik, misalnya dengan lebih banyak menyerahkan anak pada guru audio visual bernama televisi. Siapa bilang ini perkara kecil?
Kedua, seorang ibu juga melaksanakan multiperan dalam bidang perawatan, anak-anak terutama. Ia menjadi paramedis, penata rias, ahli gizi, baby sitter apalagi. Tak ada sentuhan perawatan yang bisa menggantikan tangan seorang ibu. Maraknya pengasuh di rumah-rumah tangga tertentu, tidak bisa sepenuhnya menggantikan tugas ibu yang mempunyai ikatan darah dengan anaknya. Hanya ibu-ibu disorientasi yang menyerahkan bulat-bulat perawatan anaknya pada orang lain. Mungkin, dia hanya pantas disebut ibu biologis saja. Sekedar hamil dan melahirkan, setelah itu asal-asalan. Targetnya pun sangat fisiologis, yang penting anak sehat, tumbuh besar. Tidak terlalu peduli jiwa anaknya kopong seperti toples kue yang isinya kosong.
Ketiga, seorang ibu adalah guru anak-anaknya. Al um madrasatul ula, ibu adalah sekolah pertama dan utama, begitu Rasul bersabda. Perkembangan otak dan kecerdasan (intelektual, emosional, spiritual), dimulai bukan sejak anak dilahirkan, tetapi jauh hari sejak ia masih dalam kandungan. Karena, kondisi kejiwaan ibu hamil mempengaruhi hormon yang dikeluarkan sehingga otomatis mempengaruhi janin dalam kandungan. Karena, bayi menangkap semua ekspresi kita meski mereka belum bisa berkata. Karena, apa yang kita lakukan adalah model bagi si peniru utama, anak-anak. Karena… begitu banyak karena untuk menyatakan bahwa seperti apakah kelak seorang manusia ditentukan sejak sang ibu menyadari ada nyawa dalam rahimnya. Sungguh, amat sulit membuat anak kita berperilaku baik manakala kita telah “mengkasarinya” sejak berujud janin. Mak… banyak betul ilmu yang harus dimiliki seorang ibu bila menginginkan anaknya baik secara menyeluruh. Ilmu agama, ilmu psikologi, ilmu pengetahuan dasar, baik eksak maupun sosial, ilmu pengetahuan teknologi, termasuk komputer dan teknologi informasi, ilmu… banyak sekali. Dunia masa depan adalah dunia anak kita. Maka, bila kita tidak mengikuti perkembangan, jangan salahkan bila kelak anak kita mengatakan kita ketinggalan zaman sehingga tidak layak ikut-ikutan. Aih.
Keempat, sesuai dengan seabreg peran di pundaknya, ibu adalah cermin peradaban masa depan. Ibu-ibu disorientasi, lebih sering melahirkan generasi rapuh kepribadian. Menciptakan generasi pengekor yang hanya mengikuti kemana angin berhembus. Generasi tanpa kepribadian. Generasi tanpa idealisme, selain mencapai dunia untuk kesenangan dirinya semata. Ibu-ibu perkasa, yang menjadi ibu sekaligus ayah, menjadi pengurus rumah dan pencari nafkah, kerap melahirkan anak-anak tahan uji, bahkan pahlawan di kemudian hari. Ibu-ibu visioner, “rela” melepas kesempatan bersaing di bursa kerja, lebih mengutamakan anak-anaknya meski bergelar sarjana dari universitas ternama, tak melepas kepekaan sosial dengan aktif kemana-mana dan membawa “buntut-buntutnya” ikut serta, mudah-mudahan kelak mencetak generasi visioner pula. Generasi yang out standing, memikirkan orang lain karena pribadinya telah tertempa menjadi pribadi berciri, bervisi dan mandiri.
Generasi seperti apa yang kelak akan mendominasi kehidupan bumi ini? Tengoklah ibunya. Kita akan melihat gambaran itu di sana. At last, banggalah menjadi ibu rumah tangga karena mereka sangat berharga. Kalau tidak, mana mungkin Rasul menempatkan derajat ibu tiga tingkatan di atas ayah. Bangga? Ya, perempuan harus bangga menjadi ibu rumah tangga. Ibu manusia. Ibu peradaban. Ibu dunia. Kebanggaan yang mendorong peningkatan kualitas tentu saja. So, ucapkankanlah super profesi itu dengan nada penuh “Saya ibu rumah tangga!!”. Ucapkan lagi, “SAYA IBU RUMAH TANGGA!”, dengan nada bangga (tapi tidak sombong ya…).

 
Leave a comment

Posted by on 14 June 2011 in PERSONAL

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: