RSS

Bahagia itu mahal? | Pitutur 6.0

16 Mar

 

Belakangan hari ini simbah sering nglangut wal nglamun sedikit dicampur merenung. Di usia simbah yang sekarang ini, yang notabene memang sudah mambu lemah, simbah merasa belum menghasilkan prestasi apapun di bidang dunia maupun akherot. Rumah belum punya, pekerjaan tetap juga embuh, karir pun gak jelas. Sementara amalan akherot juga tanda tanya besar. Tak ada prestasi apapun yang simbah yakini bisa mengangkat derajat simbah di sisi Ingkang Murbeng Dumadi. Meskipun tentu saja semangat untuk menjadi hamba yang diridhoi Allah tetep saja ada.

Sementara itu waktu hidup simbah hidup di dunia tentu saja makin berkurang waktu demi waktu. Makin digerogoti umur. Badan tak sekuat dulu lagi. Lari sekian meter saja sudah mengguk ngos-ngosan. Ngangkat-ngangkat sehari, pegelnya seminggu. Onderdil tubuh juga sudah makin peyok saja. Padahal kekarepan dan cita-cita yang dikejar masih banyak yang belum terwujud.

Simbah melihat, beberapa kerabat simbah yang sekarang sudah punya rumah ternyata mereka nyicilnya sampai belasan tahun sampe pecicilan, membiayai sampai biayakan. Sekarang baru berjalan lima tahunan. Masih bertahun-tahun lagi lunas. Itu pun direwangi mandi keringat bersabunkan kokot bolot wal daki di siang hari, dan nangis-nangis saat tahajud minta rejeki di malam hari, padahal mbayar rumahnya pake riba. Tak beda jauh dengan beberapa rekan simbah yang sudah naik mobil kinclong. Tak semuanya kontan, ada juga yang kontan karena memang sudah sugih kongenital akibat ketiban waris dari bokapnya.

Dengan melihat kondisi penghasilan simbah yang sekarang, maka untuk punya sebuah rumah dibutuhkan sekitar 15 tahun lagi cicilan, tentu saja dengan ngempet kebutuhan ini dan itu. Untuk punya mobil, makin jauh lagi. Apalagi untuk memiliki keluarga ideal yang dikondisikan oleh lingkungan masyarakat yang harus punya ini dan itu…. weh.. muke lo jaoooh...

Namun simbah merenung lagi, apa betul keluarga yang ideal dan bahagia itu harus selalu punya ini dan itu sebagai syaratnya? Coba sampeyan perhatikan iklan-iklan produk yang semuanya menawarkan konsumerisme itu. Produsen sabun berkata, “Belilah sabun ini, maka hidup anda akan lebih cerah.” Developer berceloteh, “Milikilah rumah disini, maka keluarga anda akan sejahtera.” Bank berkata, “Ngutanglah pada kami, hidup anda akan terjamin.” Produsen mobil nggabrul, “Miliki mobil ini, maka hidup anda lebih bahagia.” Sampai-sampai yang namanya produsen sempak wal celana abdi dalem juga menawarkan kenyamanan hidup dengan penawarannya, “Pakailah sempak kami, hidup anda akan nyaman.”

Kesejahteraan, kenyamanan, kebahagiaan dan jaminan hidup selalu dikaitkan dengan memiliki ini, mengendarai itu, memakai ini dan mengantongi itu. Konsep hidup semacam ini akan menjadi siksaan bagi mereka yang makannya senen-kemis. Beda dengan sebagian orang yang rajin puasa senen-kemis, dimana kalo senen ya nyenen, dan kalo kemis ya ngemis. Bagi kalangan elit alias ekonomi sulit, buat mereka baik senen maupun kemis ya ngemis.

Bagi kalangan yang gak kuat iman, konsep hidup diatas mau tak mau dibiayai dengan dana korupsi. Maka disini berlaku aturan “Korupsilah, tanpa korupsi cita-cita tak akan tergapai!” Mengapa begitu? Karena konsep kebahagiaan, kesejahteraan, dan kenyamanan hidup yang ditawarkan oleh lingkungan sekitar kita membutuhkan cost yang tak murah. Maka tertanam pada diri kita semua, …“Bahagia itu mahal.” Mengapa? Karena bahagia itu adalah kesejahteraan dengan punya ini itu, kesehatan dengan program sehat ini dan itu, kenyamanan dengan memakai ini dan itu.

Simbah berpikir, kelihatannya penghasilan dan kemampuan simbah tidak akan bisa membiayai harga kebahagiaan yang ditawarkan oleh konsep yang secara sadar atau tidak sadar dianut oleh kebanyakan gundul manusia ini. Untuk itulah simbah merenung. Jika untuk punya ini dan itu secara komplitan bak jamu, dibutuhkan waktu paling tidak 20 tahun lagi, sementara hidup di jangka waktu itu kudu ngempet… maka di saat selesai tidak ngempet lagi simbah hanya sempat menikmati cuma beberapa saat saja… itupun kalo simbah dikasih umur seumur kanjeng nabi saw.

Maka pastilah ada yang salah dengan konsep kebahagian yang mahal itu. Satu pesan kanjeng Nabi saw menunjukkan, sholat sunnah 12 rakaat sehari semalam bisa buat mbeli rumah di surga. Sholat 2 rokangat sebelum shubuh ganjarannya lebih baik daripada dunia dan seisinya. Belajar satu ayat dari firman Allah lebih baik dari mendapat keuntungan 2 ekor unta. Lhadalah… ha kok rumah di surga malah dapetnya gampang temen, dan mbikin ati tentrem. Beda dengan perjuangan nyari rumah di dunia. Dan tampak harga dunia itu murah, tak lebih mahal dari sholat 2 rokangat sebelum shubuh.

Maka di sisa waktu yang Allah berikan ini simbah bertekad, bolehlah gak punya ini dan itu di dunia, yang penting tidak mlarat di akherot sono. Sukur-sukur datang rejeki tak terduga sebagai lazimnya rejeki orang yang bertakwa, bisa punya ini dan itu di saat yang tepat. Maka dengan konsep hidup yang seperti inilah, kebahagiaan, kesejahteraan dan kenyamanan hidup bisa menjadi milik semua orang tanpa memandang tebal tipisnya kantong.

Sampeyan boleh punya konsep hidup yang berbeda. Toh masing-masing punya kebahagiannya sendiri.

Sumber : Bahagia itu mahal? | Pitutur 6.0.

 
Leave a comment

Posted by on 16 March 2013 in PERSONAL

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: