RSS

Sebuah Renungan

27 Mar

Cerita ini sudah klasik. Suatu ketika di negeri tikus, diadakan musyawarah besar yang dihadiri para tikus dari berbagai pojok suatu rumah. Tikus tua dengan banyak pengalaman dikejar-kejar kucing sampai tikus-tikus junior yang masih belum berani menantang maut, boleh hadir. Tidak ada perwakilan proporsional, biar dinilai lebih demokratis, maka one mouse one vote . Inti dari mubes adalah membicarakan bagaimana mengadakan upaya antisipasi penyelamatan biar tidak diterkam kucing. Setelah semua usul dan perdebatan diberikan ditempat selayaknya, akhirnya disepakati untuk mengalungkan lonceng di leher kucing, sehingga bila ia datang segera dapat diketahui. Semua tikus setuju dengan usul brillian itu. Hanya satu lagi pertanyaan diajukan seekor tikus tua : siapa yang bakal mengalungkan lonceng itu?

Akhirnya karena tak juga muncul calon tunggal, keputusan Mubes itu mentah lagi. Keputusan disepakati tapi tak ada yang melaksanakan.

***********

Ini cerita lain lagi.  Di sebuah perguruan tinggi agama, para mahasiswa dan berdebat seru tentang pembaharuan pemikiran keagamaan. Ada yang mengupas soal theologi ( ketuhanan), ada yang mengupas syari’ah, akhlak dan sebagainya.  Sebagai mahasiswa yang kritis, mereka berdiskusi  seru. Berbagai argumen dikeluarkan dengan mengacu pada kitab-kitab, baik klasik maupun kontemporer. Diskusi memang menghasilkan banyak hal, baik yang disepakati maupun yang masih diperselisihkan. Tatkala suatu saat kumandang ibadah tiba ( katakanlah adzan) ternyata diskusi keagamaan itu terus dilanjutkan. Mereka sangat tahu ada argumen yang bisa dikemukakan mengapa mereka tidak segera melaksanakan ibadah agama. Ketika waktu sudah semakin molor, sebagian segera menuju tempat ibadah, sementara yang lain, ternyata : tidak melaksanakan ibadah.

*************

Apakah tikus sama dengan mahasiswa? Jelas berbeda. hanya kasusnya yang hampir sama : mereka memperdebatkan suatu hal, memtuskan suatu masalah, tapi tidak ada yang melaksanakan. Tidak ada tikus yang berani memasang lonceng di leher kucing dan ada mahasiswa yang berdiskusi soal agama , tapi mereka tak menjalankan ibadah agama, kejadian begini tentu tak hanya dikalangan mahasiswa, karena di kalangan lain juga banyak terjadi. Artinya apa? Bahwa berdebat mengenai agama adalah jauh lebih mudah daripada mengamalkannya. Maka orang bijak dan arif mengatakan

Pekerjaan manusia yang paling berat adalah menggerakkan agamanya dari mulut ke otot-ototnya

Sebagaimana prinsip iman dalam islam, ia tidak hanya diucapkan, tetapi harus juga direalisasikan dalam amalan. Jadi kalau ada diantara kita yang mengaku beriman tapi tidak menjalankan amal saleh, berarti imannya belum sempurna. Seperti tikus, sudah memutuskan tapi tidak melaksanakan.

***

sebuah introspeksi diri

dari kuntum

hati

######################################

Yogyakarta, 25 Jumadilawal 1435 H

Menjelang Senja Maghrib

 
Leave a comment

Posted by on 27 March 2014 in PERSONAL

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: